Pengkodean ICD-10 yang TAK TERKONTROL

Bagi perekam data di RS maupun Puskesmas, pengkodean diagnosa penyakit menggunakan ICD-10 tentu penting mengetahui alasan, kegunaan dan pemakaian ICD-10 itu. Tetapi hingga kini masih banyak RS atau Puskesmas yang pengkodeannya tak terkendali, tak terkontrol sehingga kesesuaian antara DIAGNOSA yang ditegakkan dan KODE ICD-10 yang diberikan banyak kesalahan atau ditetapkan tanpa sepengetahuan (recek) dokter. Hal ini mengakibatkan kesalahan fatal dalam analisis data, atau mutu dokumentasi RM.
Keseriusan penerapan ICD-10, bukan sebatas menggunakan ICD-10 secara tak terkontrol.
Tulisan ini saya muat untuk menyatakan bahwa pengamatan di RS menunjukkan sistem pengkodean masih membutuhkan koreksi serius, agar dokumen Rekam Medik tidak dilakukan asal-asalan. Tulisan ini juga masih bertujuan mengingatkan betapa banyaknya RS dan Puskesmas yang masih menggunakan ICD-9, padahal telah sepuluh tahun lebih Menkes R.I. menyatakan berlakunya ICD-10 mengganti pemakaian ICD-9.
Akhirnya mungkin tidak terlalu salah jika kemudian perencanaan di RS tidak memakai data yang dikoleksi melalui Rekam Medik.
Maka gambaran kesakitan dan kematian akbat penyakit di Indonesia, dapat dibayangkan kualitasnya.
Kondisi seperti ini, tak terkecuali pada RS dengan akreditasi terbaik.

About these ads

18 comments so far

  1. jojok on

    setuju pakkkk.. :)

    ayo kapan turun gunung untuk membenahi pengkodean penyakit ?

  2. sjahrir on

    kemana menghilang ?

  3. Yuddi on

    saya setuju Pak,
    seandainya pun kita berkiblat kepada negara lain, sebaiknya lah pengkodean itu terkoordinasi.

    saya sering menemukan diagnosis yang terkategori “penyakit lain-lain” padahal apabila ada koordinasi antara dokter dan petugas koding , pasti bisa di masukkan dalam kode selain itu.

    akibatnya seperti yang Pak Limpo bilang, angka kesakitan dan kematian jadi bias ..

    NB. bukankah sebaiknya dokter sendiri yang menetapkan kode nya?

    salam,
    Yuddi

  4. limpo50 on

    untuk Rekam Medik, ada yang punya kok Pak. sebaiknya petugas rekam medik yang melakukan koding, hanya saja perlu koordinasi. agar jangan dikarang-karang sendiri.
    Kalau dokter yang mengkode bisa juga sembunyi lagi dari kesalahan… Pasien mati akibat salah suntik dikoding gagal nafas… heheee.
    Tapi Depkes tak banyak mengangkat tenaga tenaga RM tuh.. kenapa ya ?
    Apa tidak sama sakit gigi kita datang ke bu BIDAN ?
    Salam

  5. jojok on

    nah itu pak syahrir sudah menyampaikan satu permasalahan mendasar. kurangnya tenaga khusus RM di puskesmas (fokus saya puskesmas pak)

    petugas RM.. sdh ada blm di puskesmas, kalau ada, skrg apa sih tugas petugas RM di puskesmas ? sudahkah mereka melakukan koding diagnosis ? atau hanya menunggu data nomer index pasien dari loket, nyarikan lembar RM, ngasih ke loket, kemudian nunggu RM yang sudah terisi dari petugas medis, kemudian mengembalikan lagi ke tempat semula, tanpa adanya verifikasi kode-kode diagnosis yang dimasukkan petugas medis.

    saya malah belum pernah liat sama sekali petugas RM yang benar-benar khusus melihat data pasien di lembar RM pak. ndak tau kalau di rumah sakit seperti apa kondisinya. Jadi harap maklum, penyakit lain-lain mendominasi :)

  6. jojok on

    eh nyusul jawaban. kmrn 2 minggu saya ke Riau dan Bengkulu pak, lumayan jalan-jalan ke tempat yang baru.. tapi masih onlen terus kok, malah sempat belajar mbikin blog, karena kebetulan harus ngajarin bikin blog hehe…

  7. limpo50 on

    Mas-mas pemerhati soal ini.
    RM…RM… mungkin diklasifikasi kelas dua kodong… (kodong=mesakke) .hehehee
    Padahal jenjang pendidikan di RM ini khan sampenya di S3.
    Jadi perlu sekali … penting sekali dan mendesak sekali.
    Apa arti sebuah profesi ?
    di Lapangan, kondisi ini dibiarkan … tak ada yang peduli.
    Rumah Sakit yang katanya pake ICD-X (sedikit lagi XI), ternyata masih pake ICD-9. itupun mutunya ya.. kayak gitu…itu.
    Ngono ya ngono… but,… ojo ngonolah.
    Ayo maju…terusss terusss tapi maju kemana ? Begitu teman saya DIANSEH bertanya.

  8. limpo50 on

    Mana ya… Depkes gak ada yang masuk dari sana.
    Salam

  9. draguscn on

    Ini pak .. saya dari depkes .. di SK saya bunyinya pegawai di sekretariat jendral departemen kesehatan dipekerjakan di dinas kesehatan propinsi jawa timur dan ditempatkan di puskesmas krejengan.
    Jadi menurut pendapat saya *sambil kerut-kerut kening kaya orang penting hoek hoek* pelatihan ICD X itu harusnya digratiskan dulu untuk dokter puskesmas .. hehehehe masak disuruh bayar 5 juta ..

  10. limpo50 on

    Membayar 5 jut, itu buat siapa ya??
    Saya dulu ikut malah dibayar… tapi itu khan 12 tahun lalu Pak.
    SAya memboyong 9 set buku, karena titipan buat RS. Teman di RS ngomel-ngomel karena tidak dibiayai ikut, dananya buat beli buku saja… . Setelah bukunya diterima… kini buku tinggal buku., mungkin sulit membacanya,memakainya dan meyakinkan dirinya, apa yang mesti dilakukan.
    Dengar-dengar dari teman yang pernah ikut, sekarang malah bukunya juga hanya buat dilongok saja, soalnya hanya disiapkan 1 set padahal pesertanya se Indonesia.
    Kayak nonton pameran buku saja…heheheee.

  11. roy on

    bolehkah saya mhn bantuan software icd 10 gratis. saya baru merintis rekam medis berbasis komputer, di puskesmas ujung selatan jabar, puskesmas rujukan ciamis wilayah selatan, untuk ke RS terdekat dibutuhkan 1,5 jam perjalanan.terimakasih sebelumnya.- titis-

  12. ida on

    Pak saya lagi cari buku ICD !0 dan ICD 9 dimana dapat dibeli Pak?

    • limpo50 on

      Buku ICD-X mungkin masih tersedia di koperasi Depkes di Kuningan. Anda bisa tanya pada personil di Pusat Data, sebab disitu dulu kegiatan sosialisasi ICD-X.
      ICD-IX mungkin sudah tak berguna lagi ya… buat apa dibeli.
      Salam

  13. limpo50 on

    Buat ibu Ida,
    ICD-X yang softwarenya juga sudah ada yang disediakan Depkes, jadi bisa lebih mudah mencari coding di komputer. Nama penyakitnya juga sudah ada yang versi Indonesia….yah…lengkaplah.
    Semoga menjawab kebutuhan Anda.
    Salam

  14. probo on

    saya mahasiswa Manajemen Informasi kesehatan,(S1 rekam medis)
    saya sedang mencari buku ICDX jilid 1,2,3…
    mohon informasinya….
    saya tinggal di tangerang..

  15. eko arifianto on

    menurut saya bukan salah tenaga RM nya… yang mengkode asal-asalan… tapi justru pihak rumah sakit yang asal-asalan menempatkan orang yang kurang kompeten di dalamnya…. sejauh ini masih banyak rumah sakit yang “tenaga RM” nya dikelola bukan oleh ahli perekam medis..
    jadi untuk para direktur rumah sakit lakukan revolusi sedikit saja lah… jangan ambil tenaga RM yang “asli RM” hanya untuk syarat akreditasi saja, tapi lebih difokuskan pada mutu layanan….

    satu lagi…
    saya rasa dokter tidak terlalu longgar waktu untuk memberikan kode ICD, jika terlalu banyak waktu mungkin bukan cuma “tenaga RM” yang tidak terpakai tapi perawat dan bidan pun akan nganggur…

    sebaiknya jangan saling menyalahkan, tapi mencari solusi…
    indonesia tak kurang orang ahli untuk memecahkan masalah itu….

    salam…

  16. limpo50 on

    Mas Eko, Di lebih 200 negara ICD-10 dipakai sesuai protokolnya. Kitapun sudah termasuk negara yang bersetuju untuk memakainya dan melaksanakannya…hanya kenyataan dilapangan kurang menunjukkan komitmen itu dilaksanakan dengan baik. Jadi kayaknya kita masih belum OK beneran hingga kini dalam soal ICD-10 itu. Akibatnya tak dapat diyakinkan bahwa kita-kita para pemerhati soal ini sudah sepaham dalam banyak hal di ICD-10 itu. Melihat ICD-10nyapun masih banyak yang tak pernah…
    Terima kasih

  17. Flori on

    Kerja sama antara dokter sebagai pemberi diagnosa kepada pasien dengan Koding SANGAT AMAT PENTING,Saya lulusan D3 RM STIKES HAKLI SEMARANG.Sekarang saya kerja disalh satu Rumah sakit Swasta di Kalimantan Barat.Saya pikir untuk menerapkan ICD 10, ICOPIM, ICD 9 CM, penguasaan bahasa Inggris kepada tenaga RM dan Dokter sendiri perlu ditingkatkan apa lagi di Era Globalisasi seperti sekarang, dengan tidak mengesampingkan Bahasa Tercinta Indonesia..Yah kembali lagi KERJA SAMA, GOTONG ROYONG antara Unit yang terkait dalam suatu Organisasi Kesehatan (Dokter, Perawat, Bidan,RM, Lab dll).Buat teman-teman yang tau dimana saya bisa download aplikasi ICD 10,9CM terjemahan Bahasa Indonesia Tolong SMS ke 081 325 489 055.Terima Kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: