Tamarindus … arti SAJAKmu.

Pohon Asam Tamarindus Indica yang ditanam pada zaman Belanda sebagian masih menghiasi jalan sepanjang poros Makassar ke Kabupaten. Pohon-pohon itu ibarat  patok kilometer yang sangat menarik jika diperhatikan baik dalam perjalanan siang maupun malam.

Kini, pohon-pohon yang telah berumur tua itu nyaris punah, tua…ya …tua padahal semakin tua, buahmu, batangmu, nilaimu, bahkan kekuatanmu semakin tinggi. Begitulah model sikap para penguasa terhadap umur tanaman. Tak ada sikap peduli yang kita temukan seperti pedulinya ilmuwan Bogor disana.

Deretan pohon-pohon itu adalah tonggak sejarah bukti hidup (?) masa penjajahan yang suka membuat kita menerawang jauh membayangkan zaman yang tak kita alami dimasa lalu, bagaimana penduduk dan negara ini dijajah, diperas, ditekan dan diperbodoh yang berbekas hingga kini.

Tentu bakanlah maksud tulisan ini untuk memperbesar atau menimbulkan kembali rasa benci pada penjajah, tetapi betapa kepedulian kita menghargai sederet pohon tua yang sangat bernilai jika ditilik dari sisi lain, sisi dimana pohon tua yang bernama ASAM itu dapat dilestarikan, diremajakan, dipelihara sebagai bukti isi hati manusia Indonesia yang cinta pada alam, cinta pada negara, bukan mereka yang suka menebang apa yang dianggapnya tua, membabat hutan bagai sosok tak berperikemanusiaan.

Jika pohon-pohon itu juga menghitung berapa orang yang telah lalu lalang, mungkin kini hitungannya telah melemah sebab jumlah mereka telah berkurang oleh penebangan dan tak punya anak pelanjut yang memperbaiki pendahulunya.

Ketakberdayaan pohon-pohon itu bagai gambaran generasi Indonesia yang kini telah menjual negaranya dengan dalih investasi yang bagaikan mantra melumpuhkan pejabat negara demi uang semasanya dan acuh dengan anak cucu bangsanya dikemudian hari.

Jika negara dapat dijual dalam sehari, maka nilai sehari itu akan dianggapnya nilai tertinggi kemenangan, nilai tertinggi prestasi dan itulah kenyataan kita di Indonesia.

 

Pohon Tamarindus, kini tinggal berbisik lemah… tak ada yang mendengarnya. Suaranya lirih, merintih.

Ia kini sedih melihat Tanah Airnya … Rakyatnya … semuanya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: