Mendesak EVALUASI dan REDEFINISI APOTIK ???

Apotik yang kini menjamur di Indonesia, adalah akibat regulasi perizinan yang salah dikaprah. Mengapa ??? Izin Apotik diberikan kepada siapa saja yang punya DUIT, yang sama sekali tidak termasuk FARMASIS sehingga tidak memiliki tanggung jawab KEFARMASIAN. Jadilah pasien DIPERTARUHKAN dalam soal ini demi … ?.
Jika di zaman dahoeloe kala APOTIK itu lebih banyak berfungsi meracik dan berinovasi dalam pembakuan OBAT yang RESENTER PARATUS (apa tidak salah tulis…ya itu maunya Obat yang dibuat baru lho !!!), maka kini masalah itu telah diambil alih secara total oleh PABRIK FARMASI sehingga peracikan tertinggallah hanya sedikit saja.


Sekarang, dan saat kini Apotik telah merupakan sarana praktek PROFESIONAL Farmasis yang dituntut untuk benar-benar menyimak kerasionalan obat yang diresepkan seorang DOKTER untuk keamanan pasien. Tapi … sejauhmanakah tuntutan dan harapan itu ???
Lihatlah… berapa banyak sudah obat yang tertumpuk disamping seorang pasien yang tergeletak di RUMAH SAKIT, di RUMAH yang saban hari obatnya DIGONTA-GANTI, diTAMBAH, diCAMPUR-ADUK, bahkan masih mau DIBERIKAN dan yang kadang-kadang sedang diINFUSKAN ??? JIka HARGA bukanlah masalah yang dihadapi oleh pasien itu, MAKA keracunan dan KESALAHAN OBAT adalah yang paling TINGGI RESIKONYA bagi nyawa dan kesembuhan pasien.
Bagaimana reaksi obat yang berbaur-baur itu di dalam tubuh yang lemah-lunglai itu, yang fungsi organnya hanya tinggal berdenyut lambat, dan bagaimana pengaturan RASIONALISASI obat menurut pertimbangan FARMAKOKINETIK dan FARMAKODINAMIK ataukah FARMAKOLOGINYA tidak dapat dilepaskan dari kehadiran seorang FARMASIS.
Nah…. APOTIK dikini-kini yang berfungsi sebatas jual OBAT, cari DUIT sudah saatnya diEVALUASI. Dan mereformasi kembali pendirian apotik yang PROFESIONAL buat PROFESIONALISME FARMASI.
Semoga Apotik yang usul-usulnya berasal dari usaha penjual gelap obat KERAS dan perpanjangan praktek CARI DUIT dapat diRASIONALISASI.

Pernahkah anda FARMASIS di Apotik MEMPERBINCANGKAN OBAT seorang penderita dengan seorang FARMASIS lain yang bertugas di RUMAH SAKIT … ah…
TUGAS untuk KOMISI ETIK ??? atau SIAPA… .

5 comments so far

  1. mashuri on

    terima kasih, tulisan anda, o… jadi begitu, ya. sbg org awam saya pernah jadi korban salah obat…dan seperti realita seperti tulisan saudara itu yang terjadi jadi pemandangan yg indah bagi pasien yg sekarat…, saya ndak ngerti siapa yg bikin aturan atau regulasi ttg itu ?, apa ndak ada itikad baik dari para pembuat regulasi ?… astaghfirullah, saya ngeri… tentu semua SAYA kembalikan kepada ALLAH, obat hanya sbg sarana kesembuhan, bukan segalanya… tolong atur untuk kehidupan masyarakat luas … Trims

  2. Didik Wiyanto, S.Farm., Apt on

    Salam kenal….
    Sebelumnya saya mau koreksi sedikit tulisan anda…. Menurut KBBI yang pernah saya baca, tulisan yang benar adalah “Apotek” bukanlah “Apotik”…. Sederhana memang, namun akan berefek pada profesi kita “jadi Apotiker”…
    Tentang isi tulisan anda mungkin ada benarnya…Namun janganlah apa yang anda tuliskan hanya jadi tulisan saja, ayolah kita segera mulai perubahan dari diri sendiri… ayolah tiap apoteker harus punya apotek sendiri2 untuk prakteknya… Selama kita masih kerja di tempat orang lain, kita tdk akan pernah merasakan jadi profesi seutuhnya… sudah saatnya farmasis bangkit…!!! Go…Farmasis…Go…!!!
    Alhamdulillah penulis bersama istri (apt juga) sudah bisa praktek masing2 di apotek sendiri… Ternyata bikin tempat praktek sendiri ndak mahal bro….kita semua pasti bisa… Jangan menyalahkan regulasi dan orang lain…Instropeksilah dan….yang terpenting segera “do”….!!!

  3. limpo50 on

    Salam balik Pak.
    Wah memang saya ini agak suka ngeloyor kalo urusan bahasa tuh… maapin ya.. Pak.
    kalau prinsip penyerapan bahasa asing ke Indonesia, diyatakan bahwa serapan dilakukan menurut bunyinya, dan tak membawa aturan dari negara asalnya kata yang diserap. Makanya dialog tim (bukan dibaca/ditulis: team) penyempurnaan bahasa, berbagai soal sering masih tak sepakat walau dimasukkan (terpaksa) dalam KBBI..
    Resep bikin Apotik yang mudah dan Murah itu.. perlu diinfokan Pak. Biar kita DO.

  4. limpo50 on

    apakah kita telah memberi informasi obat… bukan sekedar menunjukkan 3×1 sehari ?? apakah pasien telah aman dengan obat yang kita berikan ? apakah itu yang terbaik baginya ??? kita punya tugas tak hanya menjual.
    Semoga pasien itu cepat sembuh.. bukan ?

    Salam buat Fajar Ramadhitya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: