Mengejar ISO dan diKEJARnya

Puskesmas lah saja.

ISOkah lambang sebuah prestasi ??? ISOkah tujuan pengISOan ??? Jika ISO telah dibangun apakah kita sudah iso ?? Iso opo ? (bisa apa?)… begitu kataku pada diriku !! 

Jika dilihat anggaran negara yang turun membiayai kesehatan mungkin banyak orang yang dapat percaya bahwa sesungguhnya anggaran negara terlalu banyak untuk sebuah perbaikan yang mendasar dibutuhkan Puskesmas di seluruh Indonesia. Jika saja proporsi anggaran itu dikelola dengan kinerja SWASTA, akan begitu banyak hal yang mampu ditingkatkan sesuai anggaran yang tersedia. Tapi mengapa dan dimanakah masalah anggaran itu nyaris tak berdaya mengangkat harkat kinerja puskesmas ??

Jika kita bersandar pada nasehat sang guru Matematik dimasa SMP lalu dan menerapkan ajarannya pada bidang yang kita hadapi, makna yang diperoleh menyatakan bahwa jika program, atau kebijakan yang dilakukan tidak terarah secara benar, maka takkan sampai kita pada tujuan yang diharapkan.
Bahkan semakin cepat kita menggenjot maka akan semakin jauh kita meleset dari apa yang diharapkan. Begitu pentingnya apa yang ada dibalik makna TERARAH yang sesungguhnya. Itulah nasehat yang paling suka terngiang-ngiang, menandakan betapa seorang guru mampu mengendapkan konsepnya, konsep materi ajar yang diajarkannya.
Kini nampak teori itu dilanggar di mana-mana. Yang disibukkan oleh kita adalah mau NAIK apa; secepat APA; seharga BERAPA; tak perlu ada apa-apanya.
Maka lolos mendapatkan sertifikat ISO, bukanlah harus disambut dengan tepukan dada, tetapi layaknya dihadapi dengan sebuah komitmen puncak yang menandakan pemiliknya telah memperoleh daya untuk mengurus dirinya, dari yang kecil untuk menjadi besar, dari yang sederhana untuk menjadi kompleks, untuk yang lambat menjadi lebih cepat dengan perbaikan yang dilakukannya secara berkesinambungan.
Jadi ISO bukanlah samasekali sebuah lambang keunggulan, keberhasilan dan lambang prestasi kerja. Karena ia adalah lambang kemauan dan kepemilikan prosedur-prosedur termasuk prosedur perbaikan.
Implementasi yang dilakukan masih menunggu akreditasi yang menunggu di ujung periode sana dari tahun ke tahun yang tiada henti.
Maka mestinya kita berdegup menanti reaksi kepuasan pasien, dan semua reaksi yang disebutnya pelanggan.
Oh… ISO.. membuat kita selalu iso berubah.

3 comments so far

  1. draguscn on

    ya pak betul .. berhasil sertifikasi itu berarti justru titik start berjuang mempertahankan kualitas .. apalagi sekarang sudah ada puskesmas yang ISO 9004:2000. Berarti unsur leadership yang selama ini cuma teori tanpa praktek dan praktek tanpa teori, mulai dinilai orang beserta dengan indikator-indikatornya.

  2. draguscn on

    sori bukan mempertahankan .. meningkatkan .. continuing improvement..

  3. limpo50 on

    hahahaaa gitu dong…pak GUA lagi tidur apa ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: