adakah yang terbalik pada SISTEM PELAPORAN kesehatan?

Nampaknya perlu dicermati, asal usul format laporan kesehatan yang diwajibkan pada RS dan Puskesmas. Orientasi format laporan nampaknya berkiblat dari harapan untuk memberi jawaban terhadap kondisi penyakit atau indikator kesehatan yang dipublikasi oleh organisasi kesehatan di tingkat Internasional, lalu diturunkan, disederhanakan dan diproyekkan.
Orientasi yang “mungkin” terbalik ini, nyata-nyata berlatar belakang tidak pada prioritas menekan kesakitan dan kematian, tetapi sistem pelaporan yang membuang waktu, biaya dan energi ini sebatas untuk memuaskan proses orientasi itu saja. Guna memenuhi kealpaan dalam pelaporan itu.
Pikirku, searah atau tidaknya data kita, kesakitan di daerah kita, kematian di daerah kita dengan wacana yang mendunia itu, bukanlah arah yang mesti dilalui, tetapi kemana harus berjalan agar kita dapat menekan angka kesakitan dan kematian.
Analisis data yang bersumber dari perifer itulah yang COCOK digunakan, diformulasi oleh pusat agar sinkron dengan wacana di tingkat atas sana itu.
Porsi daerah mestinya kearah yang lebih teknis, untuk mengatasi problema masing-masing yang sangat bervariasi dan spesifik.

6 comments so far

  1. kucingkeren on

    baca postingan ini saya jadi ingat waktu minta surat keterangan sehat di puskesmas dekat rumah ku dulu. si petugas cuma duduk di kursi kemduian bertanya begini : Punya penyakit keturunan? Berat badan berapa? tinggi badan?? suka olahraga? alergi>? setelah selesai, saya iseng dulu diam di tempat itu, penasaran ingin tau jawaban orang yang antri setelah saya. Pas ditanay tinggi badan, dia jawab 175 cm… saya langsung terbelalak habis…lebih pendek dari saya yg hanya 167 cm, kok bisa 175 cm?? dan si petugas itu dengan tenang menuliskan angka itu tak ada rasa curiga. padahal sebelumnya (hanya beberapa menit sebelumnya) sy yg jelas-jelas lebih tinggi menyebutkan angka kurang dari yng disebutkan si neng yg antri setelah saya… ahh, apa petugas itu punya penyakit alzhaimer?? kacau deh..saya pun ngeloyor pulang…

  2. che11 on

    Selama bekerja di puskesmas,selalu mengirim pelaporan tiap bulannya ke dinas kesehatan. Hal aneh yang di jumpai adalah dinas kesehatan hanya merekap angka yang ada tanpa menganalisa angka tersebut.
    Saya gak yakin data yang terkumpul hingga tingkat propinsi dan pusat sekalipun itu adalah angka yang benar-benar sinkron,artinya setiap petugas mempunyai persepsi yang sama tentang permintaan data.
    Contoh : Berapa kali di lakukan penyuluhan tiap bulan? ada yang jawab 300,ada yang jawab hanya 24,karena persepsi tentang penyuluhan beda-beda.ada yang menganggap 1 orang juga penyuluhan,ada yang menganggap berkelompok baru penyuluhan.dan petugas rekap data nyante aja,gak ngaruh ama angka,nyampelah data itu kemana-mana…

  3. sjahrir on

    Nah… bener khan? Dan itu dia… Jika Indonesia menurunkan biaya (Depkes) untuk menekan angka kesakitan dengan indikator Internasional (akibat latahnya kita untuk manut-manut saja), maka dipaksakanlah program itu sampai ke Puskesmas untuk dilaporkan.. Padahal kita punya masalah sendiri dikampung sendiri, yang mungkin tak sama-samasekali dengan yang dari sono itu… Akibatnya kita menyuntikilah seluruh bayi yang lahir dengan immunisasi yang mungkin tak perlu kita lakukan. Lakukal program pembuatan vaccin dari sono itu, seperti pernah diperangi oleh Menteri kita kali ini.
    Dan… seribu satu masalah yang tak terjamah tetapi kita membiayai kegiatan lain yang tak priotitas…
    Ini kayak keputusan dibalik meja saja. Tak peduli ada apa dengan LAPANGAN…
    Mestinya laporan kita formatnya sama, isinya adalah masalah yang ada ditempat kita.
    Salam.

  4. jojok on

    sssttt…jangan senggol2 depkes pak..nanti tau ada masalah gitu bisa keluar ide proyek baru, Pengembangan Sistem Pelaporan Supaya Tidak Terbalik dari Puskesmas…hehe.. duit juga tuhhh…

    menanggapi sodari che11..saya kalau keliling puskesmas kadang juga geli. ini di level data mentah saja kualitasnya kayak gini, gimana nanti tingkat kabupaten, propinsi…apalagi nasional. benar-benar satu masalah yang sangat mendasar yang harus dibenahi. bukannya malah mikirin gimana onlen dr kabupaten ke depkes.. emang mau ngawasi data 24 jam ? masalah kecil, bs jadi proyek besar…

  5. sjahrir on

    sekarang lagi proyek pelatihan onlen kok Mas. masih sedang berlangsung….
    yaya…deh… kita bisik2 saja.

  6. limpo50 on

    Cerita seperti Mbak Kckeren peris mirip tatkala suatu saat saya ke kantor pilisi mengadukan kebakaran yang menimpa salah satu unit di sekolah…. Kata pak polisi :”Apa penyebabnya… siapa yang lakukan, …dst. tanpa ia bangkit dari mejanya (ia sedang main catur).
    Saya hanya meninggalkan dia dengan kata-kata :”mestinya Bapak yang cari tahu” hehee dimana-mana mirip ya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: