pengobatan sendiri APA ITU ?

Ini judul memang buat cari tahu dari yang punya pemahaman, termasuk pemahaman yang berbeda-beda. Pengobatan sendiri oleh pemerintah Indonesia mungkin sudah didefinisikan pada Undang-undang pokok kesehatan, yang setiap pembacanya kemudian menafsirkan kembali menurut pikirannya. Jadi itu sah-sah saja.
Satu diantara pendapat yang bebas itu adalah pendapat saya ini, pendapat bebas dari harapan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik (relatif) bagi diri sendiri.
Seperti apa itu ???
1. Pengobatan sendiri sebaiknya tetap berpatokan pada norma medik… artinya ada yang didengar, atau dibaca dari sumber resmi, lalu kita mengambil sikap sesuai apa yang paling cocok begi kita.
contoh : dosis, aturan pakai, efek samping, kadaluarsa, pemakaian lama, tempat pembelian (apakah di toko atau di apotik dan sebagainya), kemasan, dan sebagainya.
2. Pengobatan sendiri, mencakup pula mengambil keputusan dari satu masalah yang penting dan mendesak. artinya ada kebebasan mengambil second opinioin dan mengambil keputusan. Contoh kasus ini adalah : Ketika seorang dokter mengatakan panas anak kita biasa-biasa saja, makanlah dulu obatnya sampai habis (padahal itu memerlukan waktu 5 hari), sementara panas yang tak turun-turun itu telah membuat sianak mengigau tak karuan, panas tinggi tak turun-turun. Maka sebaiknya segera membawanya ke dokter lain atau ke RS untuk menjaga jangan terlambat penanganannya. Kasus terlambat banyak memakan korban yang tak perlu terjadi.
3. Membeli obat atau memilih obat sendiri, memerlukan pengetahuan dan bantuan informasi obat dari farmasis atau dokter.
4. Mengingat aturan tidak memperkenankan dokter melayani obat secara langsung di tempat prakteknya (kecuali dalam jumlah tertentu dan jenis tertentu, mis : untuk injeksi yang urgen), maka sebaiknya obat : Tablet, kapsul bubuk dan sebagainya itu, diperoleh dari apotik dengan menggunakan resep. Pada daerah terpencil soal ini mungkin ditolerir oleh pemerintah dan dipraktekkan untuk kemudahan. Tapi sebagai informasi, saya sering menemukan obat keras dibeli dokter dari Toko Obat padahal toko obat pasti memperoleh obat keras itu dengan cara terlarang, jalur gelap dan sembunyi-sembunyi.
5. Menutup diri dari pihak yang tahu obat, memberi resiko pada pengobatan sendiri. mis: diam-diam beli obat kuat, tak sadar dapat penyakit dari efek samping obat.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: