Bagaimana PUYER diracik di Apotik ??

Sebatas informasi kepada khalayak ramai, biar rame-rame tahu apa dibalik PUYER… bagaimana meraciknya ?
1. Mengikuti permintaan resep, bahwa obat diminta oleh dokter untuk diberikan dalam bentuk puyer.
2. Memeriksa ada tidaknya bahan tak tercampurkan. Jika ada akan dilihat apakah tak tercampurkannya dapat diperlambat sehingga jika reaksi itu terjadi maka sesungguhnya obat telah termakan habis sebelumnya.
Jika tak dapat dihindari maka wajib disampaikan kepada dokter penulis resep untuk melakukan penggantian atau tidak menggunakan salah satu bahan obat yang ditulis dalam resep. Jika tak tercampurkannya adalah akibat dari timbulnya kondisi basah (karena sifat salah satu obat yang higroskopik), maka racikan dilakukan dengan memberi pembalutan pada bahan yang tak tercampur itu. itu juga memperhitungkan berapa lama obat telah habis termakan agar tidak terjadi kondisi puyer yang basah.
3. Jika semua masalah pencapuran dalam racikan telah diketahui, proses akan dilakukan dengan melihat semua sifat-sifat bahan itu. beberapa bahan harus dilarutkan, beberapa bahan harus dipanaskan, beberapa bahan harus diencerkan (pengenceran puyer, bukan pengenceran cairan).
4. Semua lumpang dan alu yang akan dipakai harus dalam kondisi bersih dan kering, bahkan untuk racikan tertentu lumpang harus dipanaskan terlebih dahulu.
5.Pada awal peracikan puyer per oral, lumpang dilapisi terlebih dahulu dengan bahan dasar (seperti sacharum lactis) yang gunanya untuk menutup pori-pori lumpang agar bahan obat yang berkhasiat tidak terbuang ke dalam pori-pori lumpang.
6. Teknik peracikan yang didasarkan pada sifat bahan, akan menentukan bahan mana yang harus didahulukan untuk digerus
dan mana yang harus belakangan. dalam penggerusan itu, selalu dilakukan pengadukan puyer secara baik sehingga puyer akan terbagi sama-rata di dalam lumpang (homogen) dan halus.
7. pembungkusan dan pembagian puyer kedalam kertas perkamen, dilakukan pembiasaan kesamaannya selama masa praktikum dalam beberapa tahun masa praktek. sehingga kontrol terhadap ketelitian dan disiplin kerja dapat menghasilkan tenaga yang terbiasa dan ahli.
8. Pada bahan obat yang jumlahnya sangat sedikit, dilakukan pengenceran, diberi pewarnaan agar dengan itu dicapai keserbarataan (homogenitas) dan terlihat dari warna serbuk yang serba sama.
9. Demikian banyaknya bahan farmasi, menyebabkan penguasaan bahan itu dapat menjadikan perlakuan yang tertentu selama pembuatan puyer.
10. Jika pengetahuan sifat bahan diatas itu, dan prosedur kerja peracikan tak pernah diberikan kepada seorang yang akan meracik, memang ia akan mengaduk saja apa yang tercantum dalam resep, tanpa peduli homogenitas, kerasionalan dan bahkan kontrolnya terhadap dosis obat baik satu-persatu, maupun dosis ganda dimana dua bahan obat bisa saling memperkuat atau saling melemahkan atau bahkan berakibat terjadinya reaksi yang bersifat racun.
11. Persoalan bagaimana realita dilapangan, apakah tenaga peracik dilakukan oleh seorang yang tak memiliki kompetensi (ini banyak terlihat), atau tak adanya kepedulian, maka pengawasan Badan POM sangat diperlukan untuk meluruskannya.
12. Itulah sebabnya seorang dokterpun tak kompeten melakukan peracikan, karena tak lagi mengetahui soal ini, apatah lagi seperti apa yang diberitakan dimana puyer dimasukkan ke dalam blender…
Tulisan ini tidak memuat pertimbangan tentang khasiat obat puyer.

7 comments so far

  1. dinda27 on

    Rasanya sy pernah memberi komentar pada pembahasan serupa entah di blog siapa. Bedanya penjelasan bapak jauh lebih rinci. Saat itu dalam keterbatasan pengetahuan tentang obat dll, sy batasi dengan pertanyaan ringan dan sepele. Bagaimana masalah kebersihan ditingkat apotik kecil? Pernah terlihat oleh sy bagaimana seseorang di ruang dalam bersekat tsb di salah satu apotik kecil sedang meracik puyer. Sementara dia baru memegang uang kertas saat melayani konsumen. Salamku.

  2. kucingkeren on

    eksistensi puyer..harusnya membuktikan bahwa tenaga farmasi indonesia sudah teruji…jangan malah diragukan ya…

  3. sjahrir on

    banyak apotik mempekerjakan tenaga non farmasi di bagian racikan, ini yang paling berbahaya… mereka tak mengerti apa-apa selain menumbuk dan membagi. Badan POM mestinya turun menertibkan. Terlalu banyak hal yang dilanggar yang berakibat mengancam penyediaan obat yang baik di apotik.
    Terima kasih untuk semua komentar Anda…

  4. muh iqbal on

    masalahnya ada di Apotek donk bukan didokternya yang selama ini disalahkan dan sekarang kompetensi Apoteker yang perlu dipertanyakan! Apakah mereka tau dan mampu mengawasi itu jangan sampai ada lagi MALPRAKTEK di Profesi Apoteker
    ……….Yang saya tau Apoteker cuma nempel nama doang jarang datang di Apotek untuk tempat kerjanya!!!!!

    Salam Pak dari MANIPI…!

  5. liew267 on

    Very nice post..Saya sangat setuju sekali dgn isi posting ini..Dan untuk menghindari ketidakhadiran apoteker dlm sebuah apotek,maka perlu segera direalisasikan dan diawasi program TATAP (tiada apoteker tiada pelayanan atau no apoteker no service)

    ^salam farmasis^

  6. sjahrir on

    yah Pak Iqbal… banyak apoteker begitu di apotik. Makanya soal ini penting diketahui secara terbuka biar ada perbaikan di sektor pelayanan kesehatan.. Bukankah kita ingin rakyat sehat ?
    Setuju…
    Salam

  7. harikuhariini on

    @liew267, pelaksanaan program TATAP?? menurutq, sebaiknya pemerintah meninjau ulang aturan yang ada dehh..
    @pak iqbal, pada prakteknya ada juga dokter yg tak suka obatny diganti..

    perlu kerjasama berbagai pihak sih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: